UBpreneur

Seminar “Founder’s story”

 

 

Mengapa Anda Perlu MembangunStartup Selagi Masih Muda?

UBPreneuer Berkolaborasi dengan Tech in hadir untuk berbagi inspirasi seputar startup dan kewirausahaan kepada para mahasiswa Mengusung tema Founder’s story, Achmad Zaky yang akrab disapa Zaky, selaku Founder dariBukalapak.com, berbagi pengalaman dan pandangannya mengenai mahasiswa dan dunia startup.

Di awal acara, Zaky menceritakan pandangannya bahwa Indonesia di masa depan akan membutuhkan lebih banyak startup yang berkualitas. “Ini adalah tugas, bukan hanya bagi para generasi lanjut, tapi juga bagi para generasi muda yang masih berada dalam masa berpikir,” ujar Zaky.

Pria lulusan ITB ini mengatakan kepada mahasiswa untuk memanfaatkan masa-masa mereka di bangku kuliah, karena ini adalah masa yang paling menyenangkan dan banyak keajaiban bisa terjadi. “Tidak hanya terdapat banyak unit kegiatan mahasiswa dan teman-teman, tapi juga kesempatan untuk menggali dan membangun sesuatu yang bermanfaat,” lanjutnya. Ia sendiri juga bercerita bahwa hampir setengah dari top managementBukalapak.com terdiri dari teman kuliahnya dulu yang biasa mengerjakan tugas bersama.

Membangun startup di kala galau

Bukalapak.com adalah platform e-commerce yang menghubungkan antara “pelapak” dengan calon konsumen mereka. Zaky mengaku dirinya ingin menghubungkan UKM (Usaha Kecil Menengah) ke seluruh masyarakat Indonesia dengan teknologi. Itulah sebabnya, ia merasa perlu membuka suatu platform yang dapat mengakomodir hal ini.

Di tahun 2010, setelah ia merampungkan kuliahnya Zaky merasa galau karena ia tidak kunjung mendapat pekerjaan yang cocok. “Dari bank sampai perusahaan minyak sudah dicoba, namun rasanya tetap saja tidak ada yang cocok,” kenangnya.

Kala itu, Zaky yakin bila ia harus membuat “sesuatu”. Hal ini sebenarnya telah dirasakan sejak ia duduk di bangku kuliah, dimana ia sering membuat usaha kecil-kecilan dan memenangkan beberapa lomba. “Kala itu saya juga sudah tertarik dengan beragam aplikasi dan teknologi baru,” imbuhnya.

Saat memutuskan untuk memasuki dunia entrepreneur, Zaky cukup yakin dengan potensi di ranah e-commerce. “Kala itu, saya melihat jumlah penduduk Indonesia yang sedemikian besar dan perkembangan pengguna internet di masa depan akan menunjukkan indikasi positif,” ujar Zaky.

Prediksinya memang terbukti benar. Ia teringat ketika masih duduk di bangku kuliah, internet hanya bisa didapat di laboratorium kampus saja. “Coba lihat hari ini, hampir semua orang memiliki gadget dan terhubung dengan internet,” katanya. Bahkan pada saat Zaky berkunjung ke Makassar, ia cukup kagum melihat rata-rata disana sudah memiliki gadget Android.

Dengan tingginya jumlah pengguna internet, maka seharusnya ada sebuah e-commerce yang besar. Namun saat itu saya belum melihat   adanya ecommerce yang besar di Indonesia. Bukalapak.com itu saya buka dengan modal keyakinan saja.

”Berdarah-darah” di awal

Di masa perintisan Bukalapak.com, Zaky menceritakan bahwa ia selalu bangun pagi dan langsung melakukancoding untuk startup-nya. Setelah sistem selesai dibangun, Ia mulai memikirkan user-nya. “Saya tahu bahwa tidak mungkin menarik user untuk bergabung jika mereka melihat platform-nya sendiri kosong. Karena itulah saya dan founder Bukalapak lainnya menjual barang-barang milik mereka pribadi agar platform mereka terlihat “hidup”.

Zaky juga melihat ketika ia baru mengembangkan Bukalapak.com, tahun 2010 adalah masa-masa Facebook sedang gencar digunakan untuk berjualan. “Kami melihat ini sebagai kesempatan untuk menarik userdengan mengirimkan pesan untuk bergabung bersama Bukalapak.com melalui Facebook,” katanya. Tak hanya itu, Zaky juga membangun sistem untuk mengirimkan pesan secara otomatis kepada pengguna Facebook yang memiliki tulisan “jualan” di status mereka.

Untuk menyokong finansial, Zaky menerima tawaran untuk menggarap situs untuk beragam perusahaan ditambah uang yang didapatnya dari memenangkan sejumlah lomba saat masih duduk di bangku kuliah.

Terima kasih fixie!

Tidak lama berselang setelah Bukalapak.com berdiri, di Indonesia sedang terjadi booming sepeda fixie. “Di saat itu, banyak orang yang berjualan sepeda tersebut di e-commerce kami,” ujar Zaky. Sejak saat itu, traksi mulai meningkat dan banyak orang yang mulai membicarakan platform buatannya.

Seperti layaknya roda, seiring berjalannya waktu, nama Bukalapak.com perlahan naik. Terlebih setelah mendapat investor. “Prosesnya terbilang cepat, hanya tiga hari setelahmeeting pertama, mereka langsung setuju untuk bekerja sama,” ujarnya.

Semenjak mendapatkan dana investasi tersebut, Zaky bercerita bahwa Ia mulai melakukan perombakan di Bukalapak.com. “Mulai dari sistem finansial sampai dengan sistem manajemen kami ubah,” jelasnya. Zaky juga berkesempatan mengunjungi Jepang dan melihat secara langsung bagaimana cara startup di sana bekerja.

Saya sangat takjub dengan profesionalitas orang-orang di Jepang dan pikiran mereka yang terbuka. Bahkan, tak jarang orang-orang hebat jusru bekerja bersama startup. Hal ini berbeda dengan sebagian orang Indonesia yang masih takut jika melihat perusahaan baru yang masih belum jelas bentuknya.

 

 

Di akhir acara, Zaky mengaku bahwa perjalanan mereka masih panjang untuk menjadi platform e-commerce terbaik di tanah air. “Masyarakat Indonesia masih perlu diedukasi mengenai belanja online dan butuh waktu untuk meyakinkan mereka bahwa online itu aman dan menarik. Banyak inovasi yang perlu dilakukan dan lebih mendengar apa yang diinginkan konsumen,” tutupnya.