UBpreneur

Workshop Finance for Start Up (Bpk. Tri Pujadi - Dosen Akutansi Univ. Bakrie) By : Andi Georgina Sandra Putri, Monica Agustina, Triandi Sunarya

Dalam merancang sebuah bisnis, perlu adanya sebuah rancangan bisnis yang matang. salah satu yang perlu diperhatikan dalam merancang sebuah bisnis adalah feasibility. feasibility adalah memandang apakah suatu hal itu layak untuk dijalankan kedepannya atau melihat prospek suatu hal itubagus atau tidaknya. feasibility suatu bisnis dapat diproyeksikan dengan menggunakan suatu alat pengambil keputusan yang di kenal sebagai capital budgeting. adapun aspek-aspek dalam memulai sebuah bisnis adalah : legal, marketing, operasional, manajemen dan organisasi, finasial, dan AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) baik sosial maupun lingkungan. dalam workshop ini, aspek yang dibahas adalah aspek finasial. secara aspek finasial, capital budgeting merupakan alat untuk mengevaluasi kelayakan proyek secara finansial, dan juga keputusan investasi untuk jangka panjang. capital budgeting membantu seorang pengambil keputusan mampu melihat prospek bisnis yang ia rencanakan atau bisnis yang sedang ia jalankan.

 

Dalam menyusun capital budgeting ada 6 tahap, yaitu : tahap identifikasi, tahap pencarian, tahap informasi akusisi, tahap seleksi, tahap finasial, dan tahap implementasi dan tahap kontrol. Tahap identifikasi merupakan tahap menetukan jenis investasi modal yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan strategi organisasi. Tahap pencarian adalah tahap mengeksplorasi investasi modal alternatif untuk mencapai tujuan organisasi. tahap informasi akusisi merupakan tahap memperkirakan biaya dan keuntungan investasi modal alternatif. memilih proyek untuk implementasi merupakan tahap seleksi. Lalu dalam tahap pembiayaan adalah memperoleh pembiayaan proyek. Dan terakhir adalah tahap implementasi dan tahap kontrol yakni melakukan sebuah proyek tersebut dan tetap memantau kinerja dari para pekerja.

Ada 4 metode capital budgeting yaitu :

- Net Present Value (NPV)

- Internal Rate of Return (IRR)

- Payback Period

Accrual Accounting Rate of Return

Arus Disconhthed Cash merupakan sebuah metode untuk menghitung prospek pertumbuhan suatu investasi untuk beberapa waktu ke depan serta menghitung perkiraan arus kas masa depan dan juga arus pengeluaran dari proyek yang seolah-olah terjadi pada suatu titik dalam suatu waktu. Kunci utama dari metode DCF adalah nilai waktu dari uang(bunga), yang berati bahwa yang diterima saat ini bernilai lebih dari 1 dollar yang diterima di masa depan. Dalam konsep ini jika kita menginvestasikan sejumlah dana, maka dana tersebut akan tumbuh sebesar sekian persen atau mungkin beberapa kali lipat di masa mendatang. Sedangkan RRR (Required Rate of Return) merupakan pengembalian yang diharapkan dari seorang penyedia modal yang berencana untuk mendapatkan atas investasi mereka.

Ada pula metode NPV adalah menghitung selisih antara nilai investasi sekarang dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih di masa yang akan datang.

- Bila NPV > 0 berati investasi yang dilakukan memberikan manfaat bagi perusahaan maka proye bisa dilanjutkan

- Bila NPV < 0 berati investasi yang dilakukan akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan maka proyek ditolak

- Bila NPV = 0 maka investasi yang dilakukan tidak mengakibatkan perusahaan untung ataupun rugi, maka jika proyek dilaksanakan atau tidak dilaksanakan tidak berpengaruh pada kalangan perusahaan

IRR metode menghitung tingkat diskon di mana nilai sekarang dari arus kas masuk yang diharapkan dari proyek sama dengan nilai sekarang dari arus kas keluar yang diharapkan. sebuah proyek diterima hanya jika IRR sama dengan atau melebihi RRR

Metode periode "payback" merupakan metode yang menunjukkan berapa lama (dalam beberapa tahun) suatu investasi akan bisa kembali. Periode "payback" menunjukkan perbandingan antara "initial invesment" dengan aliran kas tahunan.

Metode AARR (Accrual Accounting Rate of Return) mudah dipahami dang mengabaikan time value of money.