UBpreneur

Mengatasi sindrom jatuhnya perusahaan rintisan

User Rating:  / 0
PoorBest 

Menjalankan perusahaan rintisan tentu memiliki banyak risiko, seperti kerugian, omzet yang kecil, dan yang paling parah adalah jatuhnya perusahaan tersebut.

Menurut Neil Patel, setiap harinya, ada saja bisnis rintisan yang jatuh. Ada beberapa data yang menunjukkan bagaimana sebuah bisnis rintisan begitu rawan. Berdasarkan penelitian terhadap usaha rintisan kecil oleh Harvard University, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan usaha rintisan jatuh. Tak hanya oleh Harvard, beberapa Lembaga Penelitian dan Media merilis angka tentang perusahaan rintisan yang berpotensi jatuh. Fakta yang didapat dari hasil  beberapa penelitian tersebut adalah.

·         3 dari 4 perusahaan rintisan jatuh (data dari Wall Street Journal)

·         75% berisiko runtuh (data berdasar laporan John Mcdermott dari Inc.)

·         Estimasi kejatuhan perusahaan mencapai angka 90% (data dari The Guardian)

·         90% perusahaan rintisan jatuh (Mashable)

Sayangnya, penyebab perusahaan rintisan jatuh adalah karena perusahaan rintisan tersebut memang harus jatuh. Para pemilik perusahaan rintisanlah yang menginginkan perusahaannya sendiri untuk jatuh. Bagaimana bisa? Ya, ini disebut sebagai sindrom jatuhnya perusahaan rintisan. Patel menjelaskan bahwa hal ini bermula dari angka statistik yang keluar tentang perusahaan rintisan seperti yang dikeluarkan Harvard di atas. Statistik menunjukkan bahwa banyak perusahaan rintisan jatuh karena usaha rintisan umumnya merupakan usaha kecil dan dijalankan sendiri oleh pemiliknya, belum mempekerjakan karyawan. Dari angka-angka ini, para pemilik perusahaan rintisan lantaskehilangan kepercayaannya pada perusahaannya sendiri dan secara tidak langsung terdengar bahwa mereka ingin perusahaannya jatuh.

Tentu setiap wirausaha tak ingin perusahaan rintisannya jatuh karena terkena sindrom ini. Ada beberapa hal yang disampaikan Patel untuk menangani permasalahan ini. Dan hal pertama yang harus dilakukan untuk mengatasi sindrom jatuhnya perusahaan rintisan adalah menelaah hasil statistik yang berkembang tentang jumlah perusahaan rintisan jatuh. Beberapa angka statistik memiliki kecacatan sehingga anda tidak bisa begitu saja percaya pada semua angka yang malah menghantui perusahaan yang baru anda bangun. Periksa metode, responden, dan elemen-elemen statistik yang digunakan oleh peneliti tersebut untuk memastikan keakuratan datanya. Jangan lupa juga untuk memeriksa detil seperi jangka waktu. Jika hasil statistik yang anda baca tidak mencantumkan secara rinci jangka waktu perusahaan rintisan jatuh, maka statistik tersebut belum akurat.

Cara lain untuk mengalahkan sindrom ini adalah dengan mengakui nilai statistik tersebut dan anggaplah itu sebagai bagian dari kegagalan perusahaan rintisan anda. Namun jangan berkubang dalam kegagalan, justru ini saat yang tepat untuk meningkatkan perusahaan rintisan anda. menfaatkan angka itu sebagai sebuah peluang untuk meningkatkan perusahaan anda. Sebab banyak pengusaha sukses yang mengakui bahwa meski kini mereka sukses besar mereka juga sempat mengalami kegagalan. Nathan Blecharczyk, seorang milarder pendiri Airbnb mengatakan bahwa, “Untuk menjadi sukses dibutuhkan banyak percobaan,” dan percobaan tak selalu berhasil.

Neil Patel, kontributor untuk Forbes.com, menuliskan bahwa satu kesimpulan dari sebuah kegagalan adalah terus mencoba tanpa putus asa. Baginya, itu memang terdengar begitu kekanakan dan tidak realistis, namun dia menambahkan bahwa terus mencoba merupakan upaya mencari kesuksesan. Dengan terus mencoba anda akan terlatih untuk menerima kegagalan. Ini penting untuk mengatasi ketakutan anda akan sebuah kegagalan dan menempa diri dan mental anda sehingga sindrom perusahaan jatuh yang seringnya disebabkan oleh pikiran buruk si empunya perusahaan bisa teratasi.

 Sumber: http://wartawirausaha.com/2015/07/mengatasi-sindrom-jatuhnya-perusahaan-rintisan/#ixzz3lyO1sV00 

Follow us: @idewirausaha on Twitter