UBpreneur

Bagaimana Membangun Startup Yang Bisa Menarik Hati Investor

User Rating:  / 0
PoorBest 

Artikel di bawah ini akan menjelaskan dan memberikan beberapa wawasan, tips, dan trik dalam menarik investor agar mereka yakin dan tertarik untuk berinvestasi dalam startup anda. Isi dari bahasan ini bersumber dari startuplokal meetup yang berlangsung pada tanggal 26 Juni lalu, dengan pembicara Andy Zain. Andy menjelaskan berbagai alasan yang membuat investor itu bisa tertarik dengan startup anda, bagaimana membangun bisnis yang potensial sehingga investor bersedia menaruh sejumlah uang mereka dalam bisnis anda. Selamat membaca!

“Siapa yang bilang bahwa membangun startup itu adalah hal yang mudah? Data menunjukkan bahwa 85 persen startup gagal hanya dalam 18 bulan,” ungkap Andy. Ia menekankan bahwa jika anda sudah tahu bahwa startup anda tidak bisa berjalan setidaknya enam bulan, lebih baik anda segera mengganti bisnis model, pivot, atau membangun startup yang baru lagi daripada menunggu 18 bulan lamanya hanya untuk menyadari bahwa bisnis anda tidak bisa berjalan atau gagal. Andy mengatakan, “Tidak ada gunanya anda menunggu lama (18 bulan) hanya untuk membuktikan kinerja dari bisnis model anda, jika enam bulan tidak bisa berjalan, sebaiknya tutup bisnis anda secepat mungkin dan mulailah sesuatu yang baru lagi,” tegasnya.

Startup itu adalah perusahaan baru yang masih mencari jati diri atau bisnis model yang tepat agar kelak bisa menjadi bisnis yang repeatable dan scalable, seperti yang dikatakan oleh Steve Blank:

Dalam perjalanan membangun startup, anda pasti masih mencari bisnis model yang tepat, maka dari itu banyak startup yang pivot sebelum mereka mencapai kesuksesan. Perjalanan startup itu berlika-liku sebelum mereka menemukan bisnis model yang tepat dan meraih kesuksesan. Tetapi, Andy menyarankan supaya anda (orang Indonesia) jangan pernah membandingkan membangun startup di Indonesia itu sama dengan membangun startup di Silicon Valley karena iklimnya sudah jauh berbeda. Dalam artian, Amerika jauh lebih maju dari Negara kita. Dan Andy juga menyarankan supaya anda jangan sering-sering membaca Techcrunch atau media teknologi di Amerika karena takutnya itu hanya akan menciptakan sesuatu yang delusional atau angan-angan belaka.

“Saya tidak ingin ada banyak orang yang mengalami nasib yang sama seperti yang saya alami pada tahun 2001 yang lalu. Pada saat itu saya membangun startup yang menjual tiket penerbangan secara online (sama seperti tiket.com sekarang), namun sayangnya startup  ini tidak bisa berjalan dan terpaksa harus ditutup karena tidak ada orang yang mau membeli tiket secara online, eh ada, iya ada… Tapi hanya tiga biji,” ujar Andy sambil tertawa.

Startup yang dibangunnya ini adalah eTravel8. Ia membangun startup ini murni karena terpesona melihat kesuksesan Expedia yang menjual tiket secara online. Pada saat itu, di Indonesia tidak ada e-ticket dan pihak yang diperbolehkan mencetak tiket penerbangan hanyalah maskapai penerbagan dan delapan agen tiket penerbangan. Ia sadar hal ini salah karena pada saat itu teknologi belum memadai dan tidak ada orang Indonesia yang mau membeli tiket secara online. Padahal dengan ide yang kurang lebih sama, Tiket.com bisa sukses seperti sekarang. Dengan menceritakan pengalamannya ini, ia tidak ingin ada banyak orang Indonesia yang bernasib sama sepertinya.

Lalu, bagaimana cara kita membangun bisnis yang sukses dan meminimalisasi resiko agar investor bisa yakin dan mau berinvestasi pada bisnis kita? Sebelumnya, anda harus tahu bahwa VC (Venture Capital) dan investor lainnya, khususnya di Indonesia itu tidak ingin berinvestasi pada bisnis yang belum proven di Negara lain karena resikonya tergolong besar. Lebih baik anda membangun bisnis di bidang yang belum tersentuh atau belum ada pemainnya di Indonesia tetapi sudah ada bukti bahwa bisnis yang anda jalankan ini sukses di Negara lain. Ini bisa menambah tingkat kesuksesan startup anda agar bisa didanai investor.

Ada empat faktor yang menentukan kegagalan dalam suatu startup, tetapi jika anda bisa meminimalisasi faktor ini, Andy yakin bahwa bisnis anda bisa didanai investor dan sukses besar nantinya. Adapun empat faktor itu adalah:

1. Resiko Bisnis Model

Ini adalah resiko yang timbul dari bisnis model anda. Bagaimana meminimalisasi resiko dalam bisnis model? Andy menyarankan bahwa sebaiknya anda menjalankan bisnis model yang jelas, gampang dibuat, dan telah terbukti di Negara lain. Jangan termakan dengan hype dan ikut-ikutan tren yang sedang terjadi di Amerika, seperti 3D-Printing, Self Driveless Cars, dan sebagainya karena Amerika jauh lebih maju 8-10 tahun dibanding Indonesia. Jika hal itu dilakukan di Indonesia, menurut Andy, tentu tidak akan jalan. “Jangan menjadi saya 14 tahun yang lalu, jadilah Natali Ardianto (CTO Tiket.com) yang sekarang. Dengan bisnis model, pasar, eksekusi dan teknologi yang tepat, Tiket.com bisa tumbuh besar dengan cepat. Dan jangan kebanyakan baca Techcrunch.” (baca Startupbisnis.com juga ya – red).

“Dalam mencari investor, sebaiknya sesuaikan dengan industri bisnis anda. Jika anda bergerak dalam dunia game, ya cari investor yang paham betul dalam dunia game. Dan juga, tidak semua investor suka hal baru karena hal baru biasanya lebih beresiko, jadi carilah hal lama yang pasarnya besar tapi belum banyak digarap orang. Indonesia adalah pasar yang besar, coba cari celah yang bisa dimanfaatkan sebagai bisnis di sini,” ungkap Andy.

Andy juga mengatakan bahwa jangan menjadi orang yang terlalu kreatif yang berujung dengan menciptakan sesuatu yang sangat complicated. Lakukan saja hal yang sederhana dan gampang karena pada dasarnya, sebagai first time entrepreneur, anda perlu belajar dahulu sebelum mencapai kesuksesan dan berhasil membangun perusahaan yang besar.

Cara terbaik untuk mengurangi resiko dalam bisnis model adalah meniru bisnis yang telah berjalan di Negara lain, khususnya di Amerika sekitar 10 tahun yang lalu karena industri bisnis internet  di Indonesia tertinggal sekitar 10 tahun lamanya.

2. Resiko Pasar

Startup juga bisa gagal karena ukuran pasar yang kecil. Untuk menjalankan bisnis yang bisa sustainable, masuklah ke pasar yang besar dan juga potensial. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pasar di Indonesia masih banyak yang belum digarap, coba cari celah itu dan manfaatkan sebagai tambang emas dalam bisnis anda.

3. Resiko Eksekusi

Sebagus apapun ide bisnis anda, jika anda tidak bisa merealisasikannya, ide itu akan tetap hanya menjadi angan-angan saja, tanpa pernah menjadi suatu produk yang nyata. Dalam membangun startup, tentu ada resiko dalam mengeksekusi produk agar bisa segera meluncur di pasar. Untuk menimilisasi resiko di bagian eksekusi, bangunlah tim yang kompeten di bidangnya masing-masing. Kumpulkan orang-orang yang anda rasa berkompeten untuk diajak bekerja sama membangun perusahaan, seperti apa yang dilakukan oleh Cekaja di mana mereka merekrut salah satu co-founder di Check24 yang telah berpengalaman dalam membangun situs perbandingan harga produk-produk finansial.

Tidak hanya mengumpulkan dan mengajak orang-orang yang berkompeten dalam membangun startup, sebagai first time entrepreneur, anda jelas tidak mempunyai banyak pengalaman dalam membangun perusahaan. Jadi, untuk meminimalisasi resiko, bangun produk atau bisnis yang gampang dilakukan agar anda bisa segera masuk ke pasar dan menguji coba produk anda langsung di pasar. Bekerja sama dengan orang yang kompeten merupakan pilihan terbaik untuk dilakukan dalam membangun startup.

4. Resiko Teknologi

Teknologi merupakan elemen yang cukup gampang diatasi karena pada dasarnya implementasi teknologi itu tidak begitu susah. Anda bisa meniru teknologi perusahaan lain dan menerapkannya dalam bisnis anda.

Kesimpulan

Dengan menerapkan dan meminimalisasi semua resiko di atas, kesempatan bisnis anda untuk diterima oleh investor akan semakin baik karena bisnis anda berpotensial, artinya bisnis modelnya bagus, pasarnya besar, tim anda kompeten, dan teknologinya tidak begitu rumit. Andy juga mengatakan bahwa anda juga harus paham dengan investor-investor yang ada di Asia, khususnya Asia Tenggara. Investor di sini tidak begitu suksa bisnis model yang rumit dan terlalu kreatif.

“Indonesia atau bahkan Asia itu berbeda dengan Silicon Vallley, sangat jauh berbeda. Jadi jangan samakan membangun startup di sini dengan Silicon Valley. Jangan membangun bisnis yang sangat rumit dan terlalu kreatif yang mana hasilnya nanti tidak bisa diterima pasar khususnya di Indonesia. Jangan termakan hype di Amerika karena saya sering menemukan orang Indonesia yang termakan hype dengan membangun bisnis yang tidak sesuai dengan pasar lokal. Bangunlah bisnis yang gampang, sederhana, jelas, dan sudah terbukti untuk meningkatkan peluang bisnis anda agar diterima oleh investor dan juga pasar. Pasar Indonesia masih luas dan masih banyak peluang, manfaatkanlah itu. Terakhir, saya ulangi, jangan sering-sering baca Techcrunch,” tegas Andy.

  Sumber: Sharing Oleh @AndyZain http://startupbisnis.com